Allahu Akbar!! Allahu Akbar!! Allahu Akbar!!
Merinding aku mendengarnya. Merasakan getar semangat ini. Baru saja.
Baru saja aku merasakan yang seperti ini. Seorang ketua umum yang baru
saja kukenal tak lebih dari sebulan yang lalu itu pada akhir taujihnya
telah mengguncangkan semangatku. Ah, maaf kawan, aku salah. Bukan hanya
aku. Tapi aku dan semua teman-teman yang duduk di ruangan kecil ini,
semua teman-teman yang juga tak lebih dari sebulan lalu kukenal. Ya,
menggetarkan semangat baru itu. Menggetarkan semangat dakwah..
Ya Allah.. Alhamdulillah, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan??
Sekian lama perjalanan kereta dakwah ini
melaju, kian banyak jua tetesan embun hikmah yang menyejukkan langkah
kehidupan. Biarlah Allah terus melanjutkan skenarioNya untuk kita.
Dia-lah yang Maha Membolak-balikkan hati, lagi Maha Mengetahui..
Mungkin itulah awal yang dirasakan satu dari sekian juta pecinta dakwah..
Yang kini telah beranjak serupa antum/antuna, menjadikan dakwah sebagai laku utama..
Ya, Pertemuan indah dengan sebuah
Lembaga Dakwah Kampus inilah jawabannya. Serasa menemukan dunia baru
dalam kehidupan yang sebenarnya telah lama dijalani. Rasa syukur itu
hingga kini telah menjadi satu tangga yang ingin terus kita bangun
bersama. Kita bangun tangga–tangga yang tinggi dalam perjalanan lembaga
dakwah kampus ini. Membangunnya hingga semakin dekat pada keridhoanNya.
Hanya untuk itu, bukan yang lain. Untuk meraih keridhoan Allah..
Layaknya kaum Muhajirin yang berhijrah
hingga dipersaudarakan dengan kaum Anshar, begitulah hijrahnya cinta
seorang muslim kepada Rabbnya. Tak perlu ragu, takut.. apalagi malu
untuk berhijrah! Kota Mekah yang kala itu disebut–sebut sebagai kota
yang mulia, rela ditinggalkan demi menjalankan perintah Rabbnya untuk
berhijrah. Hijrah ini telah dipahami sedemikian mendalam oleh para
muhajirin, bahwa hijrah adalah tahapan dakwah para nabi dan rasul, juga
akan terus terjadi pada orang–orang yang beriman.
Rasulullah SAW bersabda, “Hijrah tak akan terputus sampai terputusnya
taubat. Sedang Taubat tak akan terputus hingga matahari terbit dari
arah barat (kiamat).” (HR Ahmad)
Sebelumnya pun telah ada masa ketika hijrah itu telah ditetapkan Allah pada nabi dan rasulNya..
Maka Luth membenarkan (kenabian Ibrahim). Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus berpindah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku; Sungguh Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS Al Ankabut: 26)
Kita telah memilih bersama LDK untuk
berhijrah. Allah pun telah tentukan takdir terbaikNya untuk kita.
Berhijrah menuju tempat yang lebih dekat dan kian dekat di sisiNya.
Jangan lengah kawan, bersama LDK kita berhijrah. Mengantarkan hikmah di
segala ranah..
“Hai orang-orang yang berselimut!
Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-mu agungkanlah! Dan
pakaianmu bersihkanlah! Dan perbuatan dosa tinggalkanlah! Dan janganlah
kamu memberi dengan maksud memperoleh yang lebih banyak. Dan untuk
(memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah!” (QS.Al Mudatstsir: 1 – 7)
Maka istiqomahlah.. Istiqomahlah menjadikan dakwah sebagai laku utama,
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al Ashr : 1-3)
Bersama LDK kita berhijrah, mengantarkan hikmah ke segala ranah.. Ma’annajah para Duta LDK ! [Putri Dwi Novitasari]
Sejak awal tahun 2000, banyak
kampus-kampus negeri yang telah melegalkan aktivitas mentoring sebagai
sarana pembinaan formal kegiatan keagamaan islam yang pelaksanaannya
diamanahkan kepada Lembaga Dakwah Kampusnya (LDK) masing-masing.
Aktivitas mentoring ini juga dimaksudkan sebagai follow up kegiatan
training kepribadian yang diikuti mahasiswa baru agar terjaga moral dan
perbuatannya dari perilaku-perilaku penyimpangan sosial. Aktivitas
mentoring ini oleh pihak rektorat kampus biasanya diintegrasikan dengan
mata kuliah agama yang pelaksanaannya diserahkan kepada LDK. Biasanya
Badan Pelaksanan Mentoring yang ada dalam sebuah struktur LDK sebagai
pelaksana teknis aktivitas mentoring, telah membagi jadwal mentoring
jurusan menjadi dua periode, yaitu periode semester ganjil dan periode
semester genap. Hal ini dilakukan karena terbatasnya pengajar/dosen
agama islam di kampus-kampus negeri sehingga mau tidak mau pihak
rektorat harus membuat regulasi mata kuliah agama islam ini agar lebih
teratur.
Pembagian jadwal yang seperti bukannya
tanpa masalah, dan menuntut LDK sebagai pelaksana mentoring harus cerdas
dalam melakukan manajemen mentoring. Kita akan mencoba menelaah
permasalahan yang ada karena pembagian jadwal yang seperti ini. Mungkin
beberapa orang diantara kita ada yang bertanya-tanya, mengapa LDK tidak membarengkan kegiatan
mentoring yang ada di jurusan sekaligus? Beberapa pertimbangan telah
menjadikan dasar bahwa pelaksanaan mentoring harus dibagi menjadi dua
periode. Beberapa faktor diantaranya adalah terbatasnya jumlah mentor
yang tersedia, penyesuaian dengan mata kuliah agama di beberapa jurusan,
serta jumlah massa yang begitu besar yang membutuhkan penanganan teknis
yang menyedot tenaga sangat besar.
Kembali ke topik utama, dengan adanya
penjadwalan yang seperti ini, maka otomatis akan ada beberapa jurusan
yang pelaksanaan mentoring wajibnya “terlambat” karena harus
dilaksanakan pada semester genap. Umumnya keluhan-keluhan dan rasa
khawatir muncul dari jurusan-jurusan yang pelaksanaan mentoring wajibnya
ada di semester genap. Mereka seolah-olah merasa kehilangan momentum
untuk merekrut kader/mahasiswa baru melalui mentoring wajib. Untuk
mengatasi persoalan seperti ini, kita bisa menyiasatinya dengan
mengadakan pra-mentoring.
Seperti apa pra-mentoring itu? Pada
prinsipnya, kita hanyalah ingin memanfaatkan momentum mahasiswa baru
yang masih berada dalam “kekuasaan” atau “kaderisasi” himpunan untuk
dikader. Untuk menyelenggarakan pra mentoring ini, kita bisa mengadakan
perjanjian dan kerja sama dengan himpunan agar aktivitas pra mentoring
ini dijadikan sebagai salah satu kurikulum pendampingan pengkaderan
himpunan atau kebanyakan di jurusan/kampus lain dikenal dengan nama IC (Instructure Commite).
Lalu materi apa saja yang disampaikan
pada pra mentoring padahal waktu itu belum keluar buku panduan mentoring
dari LDK? Jawabnya, tergantung pada kondisi masing-masing jurusan.
Namun pada umumnya, bagian kaderisasi himpunan telah memiliki kurikulum
tersendiri proses pengkaderan mereka, dan saya yakin diantara kurikulum
tersebut pasti terdapat arahan untuk membentuk karakter mahasiswa yang
bermoral dan beradab. Nah, disitulah kita bermain. Kita datang kepada
pihak himpunan sebagai orang yang mengerti pembinaan karakter sesuai
norma-norma agama yang kemudian kita menawarkan konsep-konsep ataupun
materi pendampingan yang relevan dengan misi tersebut, misal mencetak
kader jurusan yang loyal, amanah, jujur, dsb. Dengan menerapkan sistem
ini, maka kedudukan pra mentoring di mata mahasiswa baru adalah kuat,
baik dari segi birokrasinya maupun esensinya.
Kondisi tersebut diperuntukkan bagi
lembaga dakwah di jurusan/fakultas yang telah mampu merangkul
himpunannya untuk berpartner dalam membangun karakter mahasiswa barunya.
Namun realita yang ada tidaklah sama di setiap jurusan/fakultasnya.
Faktanya, kita menemukan beberapa jurusan yang himpunannya belum begitu
bersahabat dengan lembaga dakwah jurusannya. Jika kondisinya seperti
itu, maka lembaga dakwah jurusan dapat menggunakan independensinya
sebagai suatu lembaga (entah dibawah LDK pusat atau dibawah structural
himpunan) untuk melaksanakan aktivitas pra mentoring. Dalam hal ini yang
mutlak dilakukan lembaga dakwah jurusan adalah melakukan branding besar-besaran kepada mahasiswa baru bahwa lembaga dakwah juga merupakan organisasi yang ada di jurusan yang prestise-nya
setara dengan himpunan. Dengan begitu mahasiswa baru akan percaya bahwa
program yang diselenggarakan lembaga dakwah jurusan adalah program yang
penting layaknya program kaderisasi himpunan.
Pada prinsipnya, pra-mentoring disini
adalah sebagai awalan agar lembaga dakwah jurusan tidak “terlambat”
dalam melakukan pembinaan terhadap calon kader. Maka dari itu untuk
menjaga keoptimalan dan keberlanjutan dari aktivitas pelaksanaan pra
mentoring menuju mentoring wajib, perlu dilakukan pemetaan terhadap
komposisi kelompok mentoring yang disesuaikan dengan row materialmahasiswa
baru yang akan menjadi objek mentoring. Panitia mentoring jurusan dapat
melakukan pendataan melalui kuisioner (atau metode lain seperti
wawancara, telaah biodata) kepada mahasiswa baru yang kemudian dari data
tersebut kita dapat mengetahui mahasiswa-mahasiswa mana yang memiliki
kapasitas lebih dalam bidang keagamaan atau memiliki rasa interest yang
lebih kepada dakwah islam. Untuk mendapatkan data tersebut diperlukan
kuisioner yang efektif yang mengandung muatan-muatan pertanyaan yang
sesuai dengan kebutuhan kita.
Kuisioner tersebut dapat digunakan untuk
mendeteksi mahasiswa baru yang kemungkinan dulu telah aktif di dakwah
sekolah (ADS), aktif di kegiatan remaja masjid, atau mungkin juga
siswa/santri lulusan sebuah pesantren yang sudah hafal beberapa juz
dalam Al Quran. Lumayan kan?
Setelah kita dapatkan mahasiswa
berpotensi, maka kita kelompokkan mahasiswa-mahasiswa tersebut dalam
satu kelompok mentoring dan didampingi oleh mentor yang benar-benar
kompeten untuk melaksanakan pembinaan. Adapun kondisi ideal satu
kelompok mentoring terdiri dari 8 sampai 10 anak. Hal ini dimaksudkan
agar dari kelompok tersebut lahirlah kader-kader baru dan utama yang
nantinya akan menjadi pilar perjuangan dakwah jurusan setelah
kepengurusan lembaga dakwah berganti. Apabila pelaksanaan pra mentoring
ini berhasil, maka lembaga dakwah di jurusan tidak akan banyak menemui
kesulitan untuk dapat megondisikan mentoring wajib di jurusannya
masing-masing. Istilah gampangnya adalah tinggal melanjutkan kelompok
mentoring yang sudah terbentuk dan tidak perlu membuat kelompok baru
jika tidak benar-benar mendesak. Jika sudah sampai pada mentoring wajib,
maka materi yang diberikan haruslah mengikuti buku panduan mentoring
yang dikeluarkan oleh LDK selaku pelaksana teknis sebagai standarisasi
kurikulum mentoring.
Ada hal yang perlu kita soroti dari para
mentor-mentor jurusan dalam setiap pelaksanaan mentoring wajibnya
dengan para mente/binaan, yaitu mereka (para mentor) terlalu sering
menggembar-gemborkan secara berlebihan kepada mente-mentenya bahwa
aktivitas mentoring merupakan bagian dari kegiatan akademik mata kuliah
agama sebesar 2 SKS yang harus diselesaikan. Memang hal tersebut adalah
benar, namun hal itu akan memberikan dampak negatif berupa penanaman mindset yang keliru dan penempatan niat yang salah bagi para peserta mentoring. Jika memang para mente/binaan telah ber-mindset
bahwa mentoring adalah bagian dari mata kuliah agama yang harus
diikuti, memang benar selama satu semester mereka akan rajin datang
mentoring karena mungkin takut terhadap “ancaman” nilai agama mereka
akan buruk. Alhasil, jika seperti itu, pasca mereka (mente-mente) lulus
mata kuliah agama, mereka tak berniat lagi mengikuti mentoring.
Mentoring dicampakkan dan ditinggalkan begitu saja. Tentu bukan ini yang
kita inginkan. Maka dari itu, biarkanlah mente-mente kita menikmati
alur pembinaan mentoring yang telah kita program dengan menarik. Biarkan
mereka menemukan kesenangannya pada mentoring secara natural. Dengan
begitu kita akan mendapatkan kader yang murni latar belakangnya
bergabung dalam barisan dakwah ini adalah karena niat tulus karena
Allah.
Pasca periode mentoring wajib telah
habis, maka pembinaan dapat dilanjutkan dengan mentoring lanjutan. Untuk
konteks mentoring lanjutan ini, LDK pusat tidak lagi mengatur dan
menangani permasalahan secara teknis langsung. Mentoring lanjutan
diserahkan kepada lembaga dakwah jurusan/fakultas untuk dikelola secara
independen. Hal ini bukan berarti LDK Pusat lepas tangan. LDK selaku
pelaksana teknis tetap memberikan pelayanan dan memfasilitasi lembaga
dakwah jurusan agar dapat melaksanakan aktivitas metoring lanjutan
dengan nyaman. Pelayanan yang diberikan berupa suplai mentor, materi
e-book mentoring lanjutan, dosen pembimbing, dan konsultasi.
Pada hakikatnya, aktivitas pra
mentoring, mentoring wajib dan mentoring lanjutan merupakan satu
rangkaian program kaderisasi yang tak terpisahkan. Kesulitan itu pasti
ada, dan kesulitan atau keterbatasan itu adalah untuk diselesaikan,
bukan untuk ditakuti dan tidak selayaknya menjadi batu sandungan yang
akan menghambat kemajuan dakwah kampus. Semua tergantung pada kecerdikan
kita. Semoga bermanfaat. (pm)
dakwatuna.com –
Tiap peristiwa dalam jenak kehidupan ini sesungguhnya tidak pernah sepi
dari hikmah dan pelajaran yang ingin Allah berikan kepada kita. Apa
yang sudah yakini, kita ucapkan dan kita dakwahkan, akan dilihat Allah
sejauh mana komitmen dan kesunggguhan kita dalam mengamalkannya. Kita
akan diuji kesabarannya, sehingga Allah melihat siapa diantara
hamba-hambanya yang bersungguh sungguh dan bersabar.
Tengoklah kembali firman Allah swt di suarat Al-Ankabut ayat 2 “Apakah
manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya mengatakan kami telah
beriman (dalam makna yang luas, meyakini suatu prinsip, nilai,
pelajaran dan arahan dari Allah dan Rasulnya) dan mereka tidak di uji?“
Ketika
hari ini kau telah mengajarkan besarnya nilai ketaatan istri kepada
suami, sebagai seorang istri dalam waktu dekat engkau akan bertemu
dengan kesempatan dimana engkau diminta melakukan sesuatu untuk mentaati
suamimu, mungkin dalam hal yang terasa berat untuk melaksanakannya,
karena begitu padatnya hari harimu dengan aktivitas lain.
Ketika
hari ini kau telah mengajak orang lain untuk memiliki sikap dermawan dan
gemar memberi , bersedekah, berinfaq, boleh jadi dalam selang waktu
yang tidak berbilang, tiba tiba kau didatangi tetangga yang ingin
meminjam uang keperluan yang mendesak.
Ketika dalam ceramahmu tadi
telah mengajak jamaah untuk mendisiplinkan diri dengan shalat tepat
waktu dan berjamaah, tanpa di rekayasa dan direncanakan olehmu, mungkin
saat adzan berkumandang, tiba-tiba datang telpon, sms, atau wa yang
berisi pesanan bisnis yang harus segera direspon.
Saat tetanggamu
meminta nasehat agar bisa bersabar dalam mendidik anak, dan dengan
lancar dari lisanmu meluncur nasehat nasehat bijak dan kiat bagaimana
bersabar menghadapi berbagai tingkah anak, sangat mungkin sepulang
sekolah anak kita tiba tiba membuat ulah yang membangkitkan emosi kita.
Saat
dalam status Fb mu telah mengajak untuk menjadi pribadi yang gemar
tersenyum pada saudara dan tidak suka cemberut, akan sangat mungkin
dalam beberapa jam ke depan akan bertemu dengan seseorang yang selama
ini telah membuat kita kesel hati.
Saat di depan murid-muridmu
engkau telah mengajak mereka untuk selalu berbuat baik kepada orang
tua/birrul waalidain. Tak disangka tiba tibamu orang tua menelpon minta
dianter ke dokter, padahal saat itu mungkin engkau sedang terburu-buru
mengejar satu jadwal kajian.
Dan seterusnya dan seterusnya, banyak
moment dan kejadian yang Allah hadirkan untuk kita bisa membuktikan
kesungguhan dan komitmen terhadap suatu kebaikan. Ibaratnya, sebelum
orang lain merasakan “beratnya” kebaikan, Allah ingin agar engkau
merasakan dahulu pengalaman itu. Sampai kebaikan kebaikan itu bisa
menjadi akhlakmu yang kokoh. Maka jika engkau lulus, bukan berarti juga
pelajaran pelajaran lain tidak akan berdatangan kembali, ia akan terus
hadir mengisi kehidupanmu, hingga kehidupan ini telah berpindah ke bumi
(kuburan).
Suatu kali, seorang ulama diminta berkhutbah membahas
tentang keutamaan membebaskan budak. Permintaan pertama kedua, dan
berikutnya tidak mau dipenuhi oleh ulama tersebut, sampai pada suatu
saat ulama tersebut baru meng iya kan untuk berkhutbah dengan tema
membebaskan budak. Ketika ditanya alasannya , kenapa baru kali beliau
meng-iya-kan dan tidak dari kemarin kemarin, ulama tersebut menjawab
bahwa “saya blum pernah membebaskan budak, maka saya Tanya untuk
berbicara tentang keutamaan membebaskan budak. Hingga saya berpikir
untuk bisa menabung agar bisa membebaskan budak. Dan saat ini saya telah
berhasil membebaskan seorang budak, maka saya berani untuk menyampaikan
tema tersebut.
Secara fitrah, memang kita akan merasa berat,
bahkan boleh jadi lidah menjadi kelu, saat harus menyampaikan tentang
sesuatu yang kita sendiri belum mengamalkannya. Ada beban psykologis
yang menggelayut. Memang ada tema yang harus kita sampaikan meski kita
belum pernah merasakan dan mengamalkannya, yakni tema tentang
“kematian”. Dengan ujian ujian tersebut di atas, sesungguhnya Allah
menginginkan agar kita banyak latihan, sehingga nilai suatu konsep yang
kita dakwahnya, benar benar telah menginternal di dalam diri ini. Makin
banyak latihan, makin mengokohkan dan menghunjamkan konsep kebaikan di
dalam diri. Maka bersyukurlah seseoang yang senantiasa mengajak orang
lain untuk mengajak kebaikan, karena itu berarti akan banyak latihan
yang Allah berikan kepadanya, sehingga makin mahir mengoperasikan diri
untuk hidup dalam kebaikan. Wallahu a’lam.
Zina adalah pangkal kegelapan di dalam
hidup. Pacaran adalah salah satu jalan zina dan yang mengantarkan
seorang manusia menuju zina besar. Bagaimanakah kengerian akibat zina di
dunia dan akhirat? Apakah orang tua mendapat akibat siksa atas zina
pacaran yang dilakukan oleh anak-anaknya?
Berikut transkrip ceramah Ustadz Yusuf
Mansyur tentang ngeri, mencekam, serta buruknya akibat zina. Semoga
Allah Ta’ala melindungi diri, keluarga, dan kaum Muslimin dari segala
jenis zina. Aamiin.
Hati-hati ye, Mahasiswa-mahasiswi ye,
jangan sampai pingin sekolah tinggi, nikahnya telat, tapi, udah
main-main. Hancur hidup ente! Anak muda itu, kalau sudah berzina, hancur
hidupnye! Bener! Kalau ente pingin tahu bagaimana rasanya dihancurin
Allah, berzina aja. Iya! Biar tahu rasanya kayak apa. Makanya, jangan
macem-macem. Kalau jadi mahasiswa atau mahasiwi, yang baik-baik. Kalau
emang pacaran, pakai sarung tinju. Jadi gak sempat pegangan. Kalau emang
naik motor berdua sama pacar, pakai triplek.
Bener-bener, nih. Jaga betul, jaga betul. Sebab, nih ya, anak-anak sekarang ini kelakuannya masya Allah
(baca: mengkhawatirkan). Abis, contohnya televisi. Contohnya televisi.
Contohnya televisi. Jadi, pegangan tangan sudah tidak apa-apa. Cium pipi
kanan-pipi kiri; gak apa-apa. Padahal, bahayanya itu na’udzubillah…
Itu kalau laki-laki dan perempuan yang
bukan muhrim pegangan tangannya, ibunya itu-nanti di dalam
kubur-dibawain batu neraka oleh malaikat Zabaniyah. Lah, malaikat
Zabaniyah kan tempatnya di neraka, tapi bisa naik tuh ke
kuburan (seraya) membawa kerikil. Kerikil (tersebut) sudah dipanasin di
neraka berjuta-juta tahun. Kerikil tersebut diletakkan di telapak tangan
ibunya, lalu si ibu disuruh menggenggam. Gara-gara menggenggam batu
tersebut, ubun-ubun (otak) ibunya hancur. Itu merupkan siksa yang paling
rendah bagi seorang ibu (orang tua) jika anaknya berzina.
Makanya, Bu, penting ngasih
tahu ke anak, “Sini, nak. Kamu sayang atau tidak sama Emak? Kalau
sayang, jangan sampai kamu dipegang oleh orang lain, kecuali suami kamu
nanti.”
Bener itu!
Nah, kalau si anak benar-benar berzina, (siksanya) lebih kejam lagi.
Ibu-ibu yang sudah di alam kubur,
malaikat Zabaniyah itu naik (ke alam kubur) dengan membawa tombak enam
belas mata. Tombak tersebut dihujamkan ke tubuh si mayit (yang anaknya
berzina). Hal itu merupakan balasan kepada orang tua karena tidak
mendidik anak hingga sampai berzina.
Ibu (yang di alam kubur) bisa mengutuk si anak, “Gak ridha saya. Anak saya mempersembahkan perbuatan buruk!”
Kutukan ibu di alam kubur itu yang membuat si anak hidup susah di dunia sehingga; mencari kerja gak ketemu, begitu kerja tidak cukup, ketika usaha berhutang.
Itu, jawabannya cuma satu; tuubuu illallah, bertaubat kepada Allah.
Subhanallah deh… Mendingan kita sehat dan selamat daripada urusannya ribet.
Nah, orang-orang ini sekarang sudah tidak belajar urusan ribet. Yang dipelajari hanya urusan enak, tapi urusan ribet tidak dipelajari.
Mudah-mudahan jadi ingetan. Jadi, pas mau dipegang sama pacarnya, (si anak akan bilang), “Maaf, Bang. Gak, Bang. Ntar daripada Emak ane susah. Jadi, kalau Abang mau, lamar aja, Bang.”
Masih mau berpacaran? Na’udzubillahi min dzalik. [Pirman/BersamaDakwah]
Warga Turki sambut kemenangan AKP (telegraph.co.uk)
Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP)
berhasil memenangkan Pemilu Turki 1 Nopember 2015 dengan kemenangan
mayoritas. Partai Erdogan itu meraih suara 49,41 persen, diperkirakan
akan menduduki 316 (57 persen) dari 550 kursi yang ada di parlemen.
Demikian hasil sementara yang telah mendekati final dengan suara masuk
99,53 persen.
Secara prosentase suara, perolehan AKP ini naik 8,4 poin daripada suara pada Pemilu Juli lalu yang berada di angka 41 persen.
Hasil pemilu Turki 1 Nop 2015 (BBC)
Sementara itu, partai oposisi utama CHP
berada di posisi kedua dengan perolehan 25,38 persen suara (diprediksi
134 kursi). Yang menarik adalah HDP dan MHP yang peringkat suaranya
tidak berbanding dengan perolehan kursi. Secara jumlah suara, MHP berada
di posisi ketiga dengan 11,93 suara dan HDP di posisi keempat dengan
10,70 suara. Namun perolehan kursi HDP (59 kursi) lebih besar daripada
MHP yang hanya mendapatkan 41 kursi.
Perolehan kursi AKP yang melewati batas
276 kursi memungkinkannya membentuk pemerintah sendiri tanpa harus
berkoalisi. Dengan tambahan 60 kursi partai lain (jika berkoalisi), AKP
juga bisa melakukan perubahan konstitusi tanpa harus melewati
referendum.
Menyambut kemenangan ini, Perdana
Menteri Ahmet Davutoglu menyebut hasil Pemilu sebagai “kemenangan bagi
rakyat dan demokrasi Turki”. [Ibnu K/Bersamadakwah]
Tindakan menebar kebencian melalui media
sosial (medsos) yang terjadi saat ini termasuk dalam perbuatan ghibah
yang dilarang dalam Islam. Hal tersebut dikatakan oleh Ketua
Muhammadiyah Sumatera Barat, Bakhtiar.
“Islam mencela setiap perbuatan ghibah
karena dapat menjadi provokasi bagi orang lain serta pihak-pihak
tertentu yang menimbulkan masalah yang lebih besar,” kata Bakhtiar di
Padang, Senin (2/11) seperti dilansir ROL.
Menebar kebencian itu, menurutnya,
berbeda dengan memberi kritikan karena dalam hal ini beberapa oknum
leluasa memfitnah, menjelekkan pihak tertentu hingga mengandung unsur
suku, agama, ras, dan antargolongan.
Keleluasaan oknum-oknum tertentu dalam
menebar kebencian di medsos ini merupakan suatu gambaran tidak adanya
batasan demokrasi di Indonesia.
“Demokrasi di negara ini sudah terlalu
bebas sehingga perlu mencontoh negara lain yang masih memberikan batasan
dalam mengemukakan pendapat dan berdemokrasi, baik itu di ruang publik
secara langsung atauapun melalui medsos,” katanya.
Batasan yang diberikan tersebut,
lanjutnya, tidak untuk membatasi ruang gerak masyarakat secara utuh,
melainkan menjaga agar tidak terjadi fitnah dan penghinaan antarsesama.
“Biasanya kejahatan yang terjadi di
masyarakat akan lebih canggih dari yang mengawasi sehingga tindakan yang
dilakukan Polri dengan memberi surat edaran pemidanaan untuk penyebar
kebencian di medsos harusnya dapat meminimalisir kejadian itu,” ujar
dia. [Paramuda/ BersamaDakwah]
Meski belum ke Tanah Haram, Anda pasti pernah mendengar tentang Hajar Aswad. Apa itu Hajar Aswad?
Hajar Aswad punya arti batu hitam. Batu
yang ada di salah satu sudut Ka`bah yakni di sebelah tenggara dan
menjadi tempat mulai dan akhir untuk melakukan ibadah thawaf.
Dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter
dari atas permukaan tanah. Bentuknya bulat telur dengan warna hitam
kemerah-merahan. Ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah di
dalamnya. Dibingkai dengan perak dengan ketebalan kurang lebih 10 cm
buatan oleh Abdullah bin Zubair.
Asalnya batu ini dari surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah muhadits.
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam.” (HR. Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Demi
Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan
memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia
akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan
hak.” (HR. Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).
Hajar Aswad, bagaimanapun juga adalah
batu biasa, meski kaum muslimin yang menciumnya atau menyentuhnya, hal
tersebut hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Umar bin Al-Khattab berkata, “Demi
Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak
bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalaulah aku tidak melihat
Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya.”
Dakwatuna.com – Jakarta. Untuk ketiga kalinya dalam 3
tahun terakhir, Brigade Infanteri Lintas Udara (Brigif Linud) 17
(KOSTRAD) memberikan kepercayaan kepada Lembaga Kemanusiaan Nasional
PKPU untuk mentransfer berbagai pengalaman dalam kebencanaan dengan
menggelar berbagai simulasi penanganan bencana, Rabu (25/11/15). PKPU
menurunkan 3 personil dari Team Disaster Risk Management (DRM) dan 6 personil relawan rescue.
Pelatihan
berlangsung selama dua hari pada tanggal 24-25 November 2015. Pada hari
pertama, materi yang diberikan adalah simulasi penanggulangan kebakaran
dan simulasi kebakaran hutan. Hari kedua materi mengenai water rescue dan sekaligus simulasi pertolongan di air yang dilakukan di danau Pedongkelan Depok, dan dilanjutkan dengan simulasi evakuasi vertical rescue dilakukan di taman hutan lapangan tembak Brigif.
Sinergi PKPU dengan Brigif Linud 17 Kostrad ini dikhususkan untuk melatih perwira-perwira junior supaya siap dan memiliki skill penangulangan di berbagai bencana. Lettu Didik, salah satu koordinator dalam materi water rescue mengungkapkan
bahwa latihan bersama ini sangat bermanfaat bagi mereka untuk
menghadapi banjir yang kerap terjadi di Jabodetabek. Selain itu
pengalaman melakukan evakuasi vertical rescue dan pemadaman api
di hutan dengan mengandalkan alat seadanya merupakan pengalaman yang
berharga dan membuat mereka bersemangat dan siap diturunkan di dunia
bencana,” katanya
50
perwira Brigif Linud 17 diturunkan untuk mengikuti pelatihan ini dan
mereka berharap pada tahun berikutnya PKPU masih bersedia membantu
mereka dalam simulasi berikutnya dan bisa bersinergi saat bencana.
PKPU
membuktikan konsekuensinya untuk latihan bersama Brigif Linud 17 saat
pelatihan 2013 yang saat itu dipimpin Komandan Yudi Yudhoyono, dan
pelatihan 2014 yang dipimpin oleh Mayor Kunto bahwa PKPU akan selalu
siap membantu apabila diperlukan untuk pelaksanaan pelatihan dan
simulasi kebencanaan. (Jaka/Putri/PKPU/sbb/dakwatuna)
Beberapa bulan lalu film Ada Surga di
rumahmu (ASDR) diisukan kental dengan kesyiahannya karena diproduseri
oleh tokoh syiah Indonesia Haidar Bagir. Dengan hadirnya isu tersebut,
Sutradara ASDR, Aditya Gumay, membuat klarifikasi seperti dimuat di
laman Mizan Production. Benarkah Aditya membela Syiah? Berikut surat
klarifikasi itu.
Menanggapi beredarnya LAGI isu
tentang fitnah adanya muatan Syiah dlm film ada Surga di rumahku (krn
akan ditayang ulang di RCTI) yg saya sutradarai dan di produseri oleh Ust Ahmad al Habsyi serta pak Haidar Bagir (yg di tuduh tokoh Syiah Ind) maka inilah jawaban saya :
Utk masalah syiah di film saya, Itu
gosip yg tdk pernah kami (saya dan Mizan) tanggapi. Tapi sekarang Saya
mau menjelaskan, supaya masyarakat tdk salah paham dan terhasut fitnah
ttg Syiah tsb yg tidak ada seujung kuku pun tersirat di film Ada Surga
di rumahmu (ASDR).
Saat isu merebak ketika film beredar
pada april tahun 2015, saya malas menanggapi karena khawatir di anggap
memanfaatkan Isyu utk promosi film. Sekarang krn film sdh tidak edar lg,
saya baru mau bicara. Krn fitnah ini ternyata terus berkelanjutan.
Kalau di anggap Mizan (pak Haidar Bagir, pengikut Syiah) saya sungguh
meragukan hal itu. Saya telah memproduksi 2 film dng Mizan, Emak ingin
Naik Haji (EINH) dan ASDR. Dlm proses produksi (pra, prod dan Pasca)
saya sering berkumpul dng pak Haidar yg rendah hati, sholeh, berilmu
luas, teliti, memiliki cita rasa seni yg tinggi dan kami sering sholat
berjamaah dng cara …. SUNNI ! Demi Allah saya saksikan beliau menjadi
imam sholat dng cara SUNNI. Kalau sbg penerbit beliau jg menerbitkan
beragam buku termasuk buku ttg syiah, bukankah itu sbg bahan pengetahuan
semua orang. Agar dpt belajar berbagai hal utk jadi pembanding dng
semua aliran yg ada di agama Islam ?
Ketika saya dan rombongan kemendikbud yg
saat itu menterinya masih pak NUH, membuat Pagelaran budaya di Iran.
Salah satu acaranya memutar film saya ‘Emak Ingin Naik Haji’ yg ada
adegan sholat cara sunni dan ada dialoog pembahasan ttg hadist, saya sdh
cemas film saya akan di hujat dan di tinggalkan penonton yg mayoritas
masyarakat Iran yg syiah, tp yg terjadi selesai film, banyak penonton
memberi saya ucapan selamat (karena panitia memperkenalkan saya ke
penonton sbg sutradara filmnya ) dan bahkan beberapa bapak (yg org iran)
memeluk saya. Mrk menangis dan sangat terharu dng cerita film tsb. Hari
berikutnya, saya sholat di masjid mrk dng cara Sunni. Tak ada satu pun
yg menegur atau mengganggu saya.
Selanjutnya di hari berikut saya masuk
toko utk beli air mineral, penjaga toko bertanya saya dr mana, saya
jawab Indonesia. Dia tersenyum sambil bilang ‘ahaaa Sunni, Sunni” sambil
menepuk pundak saya bersahabat. Well, apa tanggapanmu sahabat akhiratku
dan sesama Sunni dng ceritaku itu ? Semoga kita terhindar jadi penyebar
fitnah yang dosanya lebih kejam dr pembunuhan.
Audzubillahminzalik ! Kalau kawan2 mau share penjelasanku ini silahkan, ya. Agar ummat terhindar dr fitnah.
Disebutkan pada paragraf kedua yaitu: “Menurut
laporan dan foto di lapangan, mereka menyeberang tidak di zebra cross
atau tempat penyeberangan yang benar,” kata Kosasih saat dikonfirmasi
melalui pesan singkat, Jumat (20/11/2015).
Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia
(KAMMI) kampus Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam & Arab (LIPIA)
mengklarifikasi bahwa hal itu tidak benar.
“Padahal beginilah keadaan asli di depan
kampus LIPIA. Jelas-jelas ada zebra cross terbentang di depan kampus.”
tulis KAMMI melalui lama jejaring sosial, Sabtu (21/11) seraya
menunjukkan gambar seperti di bawah ini.
Depan kampus LIPIA.
KAMMI berharap ke depan Detikcom memberitakan kabar yang benar.
“Karena apa yang kalian (Detikcom) beritakan akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak!” tegas KAMMI.
Seperti diketahui, seorang mahasiswi
LIPIA bernama Annisa Sholihah (22) meninggal tertabrak bus TransJ saat
menyeberang depan kampus Jl Warung Buncit, Jakarta Selatan.(Paramuda/ BersamaDakwah)
Klarifikasi
dan permintaan maaf Ustad Maulana dan Trans TV dimediasi oleh Ketua
Komisi Dakwah dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI. (facebook Cholil Nafis)
dakwatuna.com – Jakarta. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Cholil Nafis menulis dalam akun Facebook pribadinya,
bahwa Ustadz Muhammad Nur Maulana telah meminta maaf atas kata-kata
yang salah dalam isi ceramahnya. Permintaan maaf tersebut diungkapkan
Ustadz Maulana saat melakukan mediasi antara Ustadz Maulana, pihak Trans
TV, dan MUI.
“Ustadz Maulana menyatakan mhn maaf jika ada kata2
dari isi ceramahnya yg salah. Ia menarik ucapannya klo pemilihan
pemimpin tdk ada kaitannya dg Islam,” tulisnya, Rabu (18/11).
Selain
itu, dia menambahkan, Ustadz Maulana juga menyatakan kembali agar umat
Muslim memilih pemimpin yang seiman dan yang baik. Ustadz Maulana,
tambah Cholil, juga meminta bimbingan kepada MUI agar dirinya bisa
menyampaikan dakwah yang lebih baik. Selain Ustadz Maulana, manajemen
Trans TV juga menyatakan bahwa program “Islam Itu Indah” meminta
bimbingan MUI dalam siaran-siarannya.
MUI, ungkap dia, menyambut
baik koreksi pemirsa dan umat Islam yang menyatakan aspirasinya untuk
meluruskan isi ceramah Ustadz Maulana. MUI melihatnya bahwa protes itu
adalah bentuk cinta Islam dan semangat memperbaiki dakwah Islamiyah.
“walhamdulillah teman2 pemuda muslim (GPII dan organisasi pemuda muslim lainnya) telah mengoreksi dakwah ustadz Maulana di TransTV ttg Memilih pemimpin seiman,” tambahnya.
MUI,
lanjutnya, juga mengapresiasi niat baik Ustadz Maulana dan manajemen
Trans TV untuk melakukan klarifikasi (tabayyun – red) terhadap isi
ceramahnya sekaligus meminta maaf atas segala kesalahannya.
“MUI
siap membimbing Ust. Maulana dalam aktifitas dakwanya. MUI memberi
hasil2 fatwa utk memudahkan tema2 dakwah dibtransTV. Mudah2-an semua hal
ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah kita dan menjadi pembelajaran
sehingga kita menjadi manusia pembelajar,” ujarnya.
Sebelumnya,
setelah pernyataan Ustadz Maulana soal kepemimpinan dalam acara “Islam
itu Indah” di Trans TV, Senin (9/11) lalu, yang mengatakan bahwa memilih
pemimpin politik seperti mengangkat pilot yang tidak perlu melihat
agamanya, menuai banyak kecaman.
Diantaranya datang dari Ketua
Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Mohammad Siddik. Menurutnya,
Ustadz Maulana segera bertobat, meralat ucapannya, dan minta maaf kepada
pemirsa secara terbuka. “Serta, jangan mengulangi lagi kesalahan serupa
di masa mendatang,” pesan Siddik dalam keterangannya seperti yang
dilansir Republika.co.id, Senin (16/11/2015). (abr/dakwatuna)